Malam yang kelam


        Ada yang bersembunyi di balik malam, gadis dengan baju lusuh duduk di emperan. Katanya, ia menyukai saat bumi mulai membelakangi matahari, hatinya dan malam berbaur menjadi satu. Saat suara jangkrik berisik menjadi musik pelipur lara baginya. Kesedihannya sudah berlarut larut bahkan tak akan pernah hilang bersama purnama yang berubah menjadi sabit. Tak ada lagi pundak tempat menopang gundah yang kian mengganjal. Ku tarik tangannya, gontai aku melangkahkan kaki dengan rima tak karuan, kucari tempat yang lebih layak agar bisa bercerita banyak hal dengannya. Di kursi taman kota dengan kerlap-kerlip lampu kendaraan disanalah kami bertukar cerita, terhitung beberapa menit matanya berembun, seperti rerumputan di pagi hari. Suaranya bergetar. Satu satu kata yang bisa ia keluarkan dari mulutnya, selebihnya berantakan dan tak bisa ia susun seperti semula Aku memeluknya dengan dekapan hangat meminimalisir hawa dingin yang dari tadi menyelimutinya. Ternyata ia seorang diri terombang-ambing di lautan manusia. Dulu, selagi ia selalu bermain dinaungan mentari ia menyukai arena luas berwarna biru yang merupakan pembiasan langit, namun seketika semua miliknya yang teristimewa direnggut di arena itu, semua berubah menjadi hitam, seperti malam… Disaat semua berpasrah pada lambaian tangan terakhir mereka, gadis itu hanya bisa diam. Sampai saat ini tak ada sedetikpun dalam hidupnya yang berwarna. Hitam, melebihi langit dimalam hari, katanya lagi.

Komentar

Postingan Populer