Taman Mimpi
Aku punya taman mimpi di langit kamarku, indah, menawan,
rindang… hanya aku yang bisa melihatnya sekarang.
Taman itu lebih indah dari
senja yang mulai ku kagumi, mungkin karna di dalamnya warna-warni, tidak
seperti senja yang setia pada jingga. Sebelum ku terlelap ku selalu menyapanya,
menanyai kabar dari mimpi satu persatu, kata beberapa dari mereka ada yang
sudah hampir mati karena layu, ada yang siap kupetik, ada yang masih berstatus
‘calon’. Suaraku menyerak ketika menjawab pertanyaan mimpi yang hampir mati
karena layu…
“Aku tahu kau bosan berada di tamanku, banyak
temanmu tumbuh di taman orang yang jauh lebih hebat dariku maka dari itu aku siap
jika kau mati di sini, biar saja aku menambahkan mimpi lain yang mungkin lebih
indah darimu, lebih indah sehingga orang lain ingin menengoknya, bukan hanya
aku seorang.”
Kemudian ia menjawab lagi,
“Sekarang kau berharap dalam keraguan, dulu
kau menangis di setiap sujud terakhir seusai beribadah, meminta agar kau
berjumpa denganku di suatu hari, ini bukan persoalan hebat tidaknya, indah
tidaknya, kau harus mengintrospeksi diri terlebih dahulu.”
Aku
terdiam menatapnya lekat-lekat sampai kornea mataku berair, aku dikejutkan oleh
jawaban yang terbang bebas dari langit kamarku, sedikit sakit, tapi tak apalah…



Komentar
Posting Komentar